Kamis, 02 April 2015

Khalayak Indah

Tepat malam ini waktu pergantian hari, dimana aku mencoba meluapkan Amarah ku dengan menulis setelah melihat obrolan dalam social media kau dan teman kita dulu. Aku tak melihat kau yang dulu yang benar benar meneteskan air mata untuk aku bertahan dan memperjuangi mu agar kita bisa tetap menggengam tangan SELAMANYA, apa kau masih ingat kata SELAMANYA atau sudah kau kubur juga dengan Rasa ku yang hidup dalam tanah dan tidak pernah Mati sampai SELAMANYA. Aku turut berbahagia melihat perbincangan via chating kau dan dia, dimana kau mengabarkan kepadanya ingin menyegerakan Pernikahan mu dengan pria Terhormat, Kaya, Dan pilihan orang yang membesarkan kau. Aku juga tidak pernah lupa untuk mempersiapkan diri jika itu memang terjadi kau di pinang dan menikah dengan pria Borjuis itu, sampai aku benar benar melatih hati dan mentalku dengan cara sering menipu diriku kalau kau sedang dalam asrama dan tidak dapat keluar apa lagi untuk berhubungan dengan ku, ya aku anggap kau masuk akademi yang super ketat dengan peraturan seperti di dalam Keluarga mu itu. Aku pun sadar kalau aku bukan siapa siapa dan bukan Pria mapan seperti Pria yang sangat beruntung itu yang bisa berikan Materi dan kehidupan yang Ekspetasi dari kau dan keluarga mu jika bersamanya akan hidup dengan kenyamanan duniawi. Aku hanya bisa mengantarkan kau sampai kau memakai toga dan mendapatkan gelar pertama mu setelah paska bangku sekolah mu. Mungkin hanya sebatas itu aku bisa berjumpa, menjaga dan mencintai dengan Nyata. Aku ikhlas meskipun history ku dengan mu menjadi Cacian, bulyan orang orang terdekatku dan aku terima semua itu sebagai Kado TerIndahku setelah kau benar pergi.
Kesetian pada Janji Foto di atas asalah hasil tangan ku yang beralasan kenapa aku harus Setia pada janji. Gambar ini aku ambil ketika tepat awal tahun ini aku kembali ke pantai ini dimana 3 tahun lalu aku pernah disini dengan mu. "Dreamland Bali"  tentu kau akan ingat jika sedikit kenangan itu tidak kau bunuh dengan perasaan mu juga, ketika aku berdiri disini dengan teman ku aku jelaskan kepada mereka kalau pantai ini adalah dimana aku pernah merasakan kebahagian di masa hatiku pernah hidup sebelum akhirnya terkubur dengan kenangan itu. Janji adalah suatu hal yang akan kita tepati setelah kita berucap. Dan Setia adalah sikap cara kita untuk bersama sama, dari pertama kita membuat suatu ikrar hubungan seperti khalayak muda mudi "Pacaraan" aku belum bisa membunuh dan mengubur kesetianku pada janji kita dan sengaja aku bertahan ataupun menghidupkan itu dalam sisa umurku ini agar kau tahu Mencintai tak sebercanda itu . Memang aku bodoh malah terlalu sok kuat untuk hidup dengan kesetian menunggu kau yang Tuhan pun aku tantang untuk seberkuasa Apa dia dengan kehidupan terkutuk ini. Alasanku bertahan dan berjuang untuk tetap hidup dengan Nestapa ini ialah ketika kau pernah memeluk dan menangis di dadaku menyuruhku Untuk tetap memertahankan mu, memperjuangi dan bersama sama berjuang melawan orang yang akan memisahkan kita dan kata itu yang buat aku melawan semua fikiranku untuk tidak mengenal kalah sebelum salah satu di antara kita ada yang Mati. aku tidak mengerti sekarang aku masih hidup atau sudah benar Mati, dan aku tidak pernah meragukan kesetianmu selama 3 tahun 6 bulan. Dan kini hanya cerita dongeng ku sebelum tidur. Apakah ini yang akan aku lihat dan jika benar, Jangan berfikir kalau aku akan pergi meninggalkan Janji itu. Gambar di atas menjadikan Ulasan fikiranku bahwa itu akan terjadi dalam waktu dekat ini, sengaja aku meminta dengan temanku untuk memotoiku dengan melihat pasangan yang akan menikah. Jelas ini adalah gambar yang paling menyakitkan ketika orang di cintai sudah pergi dengan kehidupan barunya. Aku kembali menteskan air mata untuk kesekian kalinya di malam ini sebelum Gambar ini menajdi nyata pada dirimu. Dan pasti kau akan berfikir aku menyerah, aku pergi seperti apa yang kau lakukan sekarang terhadap "JANJI"  aku pastikan SELAMANYA kalau aku masih menepati "JANJI DAN SETIA" untuk menunggu kau kembali sekalipun kita dipertemukan lagi bukan di Dunia ini. Aku percaya ada waktu kita di Pertemukan Kembali dan itu akan terjadi. Mimpi ku saja tak bosan untuk setia menampilkan kau tiap dalam tidur tidur ku, yang berharap kalau aku sedang tidak bermimpi dan kau Nyata kembali 😢 Bukti jika aku masih setia Aku selalu setia pada janji yang pernah aku ucap dalam kebahagian aku bersamamu, dan jika kau ingin buktinya akan aku perlihatkan Kesetianku samapi hari ini. Pertama semua foto dan momen kenangan itu satupun tidak aku hapus dari memory hp ku. kedua semua password id dan atm ku masih nama mu dan tanggal jadian kita. ketiga Kau pasti ingat karikatur kado ulang tahunku yang kau beri dulu, itu masih aku gantung di dinding kosan ini. Keempat foto mu masih tersimpan rapi di dompetku. Semua yang pernah kita buat bersama sama dulu tidak pernah aku hapus sampai aku menjadi pria yang berkepanjangan melajang dan akhirnya mati dengan kesendirian. Harapan sederhanaku saat ini Doa dan Usaha boleh saja mati dalam kehidupanku tapi tidak dengan Harapan ku, karena nyawaku saat ini adalah Harapan. aku berharap agar tulisanku ini dapat di baca dengan kau yang lupa bahwa pria ini pernah menajadi pengacau kehidupan mu dan pengawal semasa kau kuliah. tapi biarlah tulisan ini menjadi tontonan orang yang melihat pria bodoh, miskin dan tidak terhormat ini bercerita luka nya sendiri. Dan jika tuhan memberikan izin untuk bertemu kau sebentar aku akan bersujud meminta maaf atas cara ku mencintai mu yang salah. Dan setelah itu aku akan pergi berlayar membawa kesetian dan janji ku ke samudera yang jauh dan waktu yang lama mungkin saja aku tidak akan pernah kembali lagi ke kota kita bertemu dan kota kita berpisah. Aku lebih memilih hidup jauh dari daratan yang sudah buat kita berpisah. Aku begini karena kau adalah "Khalayak Indah" Bagaimana aku bisa melupakanmu jikala Nama mu selalu ada di Antara kata kata Mutiara. Terlalu Indah untuk di lupakan SELAMANYA. Carilah aku jika ingatanmu kembali bahwa aku pernah berjanji untuk selalu menjagamu -2610 Jakarta, 26 Maret 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar